Destinasi Wisata yang Muncul Setelah Bencana Dahsyat

Salah satu sektor yang membesarkan nama Indonesia di mata dunia adalah pariwisata. Negeri ini memiliki banyak sekali destinasi wisata berkelas Internasional yang sangat indah. Wisatawan dari seluruh dunia pasti sulit untuk tidak segera mengunjungi situs tiket pesawat setelah mengetahui keindahan tempat wisata yang ada Indonesia. Tapi tahukan kamu kalau, di balik keindahannya, beberapa tempat indah di Indonesia justru terbentuk setelah bencana besar? Jika tidak, kamu harus membaca ulasan tentang beberapa tempat wisata apa saja yang konon muncul setelah bencana

Taman Nasional Gunung Rinjani

Siapa yang menyangka bahwa keindahan yang disajikan oleh Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) berawal dari letusan besar gunung Samalas-cikal bakal gunung Rinjani. Gunung yang diperkirakan meletus hebat pada abad 13 ini pernah membuat bumi menjadi gelap karena abu letusannya yang tersebar ke berbagai wilayah di bumi, menghalangi cahaya matahari untuk masuk. Letusan berskala 7 tersebut telah membuat puncak Samalas runtuh dan menghasilkan Kaldera besar yang kini berubah menjadi danau Sagara Anak seluas 1.100 ha yang Indah. Di tengah danau itu pun muncul gunung Baru Jari yang merupakan anak gunung Samalas.

Danau Toba

Sama seperti Rinjani, keindahan  Danau Toba di Sumatra Utara berasal dari letusan besar lgunung berapi bernama gunung Toba. Namun kekuatan dari letusan gunung Toba ini berkali-kali lipat dari letusan Samalas. Saking dahsyatnya, peneliti menggolongkan letusan Toba di skala 8. Hal ini karena gunung Toba termasuk ke dalam jenis gunung super dengan cadangan dapur magma yang sangat besar. Dahsyatnya letusan Toba pun diperkirakan telah membunuh 60% mahluk bumi pada saat itu. Namun di masa sekarang, kaldera dari letusan gunung Toba pun telah berubah menjadi danau air tawar sepanjang 100 km dan lebar 30 km dengan danau Samosir di tengahnya.

Museum Sisa Hartaku

Lagi-lagi destinasi wisata menarik hadir setelah letusan gunung berapi. Kali ini, erupsi gunung Merapi di Yogyakarta pada tahun 2010 yang menjadi ‘dalangnya”. Saat itu, awan panas atau wedus gembeli Merapi membakar habis banyak desa disekitarnya. Rumah-rumah pun rusak parah dan hanya menyisakan dinding serta barang-barang yang rusak parah.

Namun berbeda dengan Rinjani dan Toba, destinasi wisata baru yang hadir setelah letusan Merapi tidak terbentuk secara alami, melainkan berkat tangan kreatif Sriyanto yang rumahnya turut menjadi korban Merapi. Pasca Erupsi, Sriyanto berinisiatif untuk mengumpulkan harta yang tersisa dan menyimpannya di rumah yang hanya menyisakan dinding tersebut untuk mengingatkan anak cucu akan malapetaka ini. Tapi lambat laun, banyak orang yang datang untuk menguinjungi rumah tersebut sampai akhirnya diubahlah fungsi rumah miliknya menjadi sebuah tempat bernama Museum Sisa Hartaku yang terletak di Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Museum ini bisa dikunjungi sambil melakukan lava tour di Merapi.

Desa Teletubbies

Ingatkah kamu dengan gempa besar yang melanda Yogjakarta pada tahun 2006 lalu? Besarnya kekutan gempa itu bahkan sampai meratakan sebuah desa bernama Ngelepen di Sleman. Namun beberapa waktu setelah diluluhlantahkan gempa, dusun Ngelepen pun berubah menjadi kawasan unik nan cantik yang banyak dikunjungi wisatawan.

Warga Ngelapen yang dulu kehilangan tempat tinggal, mendapat bantuan dari Lembaga Masyarakat Non-Pemerintah dan Domes For The World Foundation berupa rumah baru. Uniknya, rumah tersebut di desain dengan bentuk dome/ kubah layaknya rumah di tayangan anak Teletubbies. Di tahun 2007, desan ini pun diresmikan oleh pemerintah dengan sebutan ‘New Ngelepen’ dan sejak saat itulah banyak wisatawan yang berkunjung ke sana.

Boot on The Roof

Pada 26 Desember 2004, Gempa berkekuatan lebih dari 9 skala richter mengguncang Aceh dan menimbulkan mega tsunami yang membunuh ratusan ribu orang di berbagai Negara Asia. Tsunami tersebut tidak hanya menyapu bersih daratan yang dilaluinya, tapi juga membawa berbagai benda yang ada di laut. Seperti kapal nelayan dari Lampulo, Kecamatan Kuta Alam seberat 20 ton yang terseret hingga 1 km dari tempatnya berlabuh. Kapal itu pun tersangkut di atap rumah warga. Tak hanya itu, kapal itu pun ternyata telah menyelamatkan sekitar 59 orang dari terjangan tsunami.

Melihat hal tersebut, kapal itu pun tak lantas di turunkan dari atap setelah tsunami surut, tapi justru sengaja dipertahankan dengan posisi tersangkut di atap rumah sebagai salah satu museum Tsunami Aceh. Kehadiran museum Kapal Di Atap Rumah ini pun telah berhasil mengundang banyak wisatawan.

Untuk mengunjungi tempat-wisata tersebut ada berbagai moda transportasi yang bisa digunakan. Namun gunakanlah pesawat untuk mendapat waktu tempuh yang lebih cepat. So, buka situs tiket pesawat terbaik dari sekarang. Jika ingin mendapat tiket pesawat dengan harga yang murah, kamu bisa cek harga tiket pesawat di Reservasi.com